Apakah tujuan pernikahan Anda?

Apakah tujuan pernikahan Anda?

05/15/2018 0 By BIC

Mengapa kita menikah? Pertanyaan ini sangat penting bagi kita yang hendak menikah, agar kita dapat mengisi hari-hari pranikah kita dengan membangun hubungan dengan cara yang baik dan benar bersama calon pasangan.

Pentingnya sebuah tujuan
Apa tujuan Allah menciptakan keluarga? Jika sesuatu tidak mempunyai tujuan, kira-kira apa jadinya nanti? Jika seorang menikah, namun tidak mempunyai tujuan, apa yang akan terjadi? Tentunya akan berantakan.

Memang, ada kemungkinan pernikahan yang sudah dibangun tidak berantakan karena ada juga pasangan merasa malu untuk berpisah/bercerai. Pasangan seperti ini biasanya tidak memiliki komunikasi yang baik. Atau, ada juga pasangan yang berkomunikasi dengan baik, tetapi mereka lelah melakukannya. Melakukan sesuatu yang tidak diketahui tujuannya memang merupakan hal yang sangat melelahkan. Celakanya, banyak orang menikah tanpa tahu untuk apa mereka menikah. Itulah sebabnya pernikahannya menjadi misused (salah guna). Jika tidak tahu untuk apa kita menikah, lama-kelamaan kita akan bosan karena pernikahan kita tidak bermakna. Mungkin kita akan berpikir, “Untuk apa saya menikah jika tidak punya tujuan sama sekali?

Hidup berkeluarga tidaklah mudah. Akan ada banyak tantangan yang akan Anda hadapi. Paulus berkata bahwa mereka yang ingin menikah harus siap mengalami kesulitan badani, bukan kesulitan rohani. Apa artinya? Dalam pernikahan ada banyak hal yang melelahkan. Seorang istri harus mengurus suami dan seorang suami harus bersabar terhadap istrinya. Mungkin dulu ketika belum menikah, orang bisa dengan santai bermain ke rumah temannya dan menginap. Sekarang, setelah mereka menikah, mereka tidak bisa lagi melakukan hal itu. Apalagi jika ada masalah. Jika kita tidak tahu tujuan pernikahan, kita akan terus saling bergesekan dan berbenturan. Ketika terjadi persoalan, kita mudah menjadi pahit, sakit hati, terluka, dan akhirnya memutuskan untuk bercerai (secara legal maupun sekadar secara hati dan fisik).

Pernikahan tidak sekadar dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan biologis kita, dan bukan pula jalan keluar untuk mengatasi kesepian kita. Tujuan pernikahan haruslah sesuai dengan tujuan Allah, yaitu tiga hal berikut:

1. Mewujudkan Gambar Allah
Tujuan pernikahan yang pertama adalah mewujudkan gambar Allah. Dalam sebuah keluarga ada struktur: ayah, ibu, dan anak. Sadarkah Anda bahwa pola itu bukan ciptaan manusia? Pola itu merupakan “salinan” dari pola yang ada di surga, yakni Bapa (figur ayah), Anak (figur anak), dan Roh Kudus (figur ibu). Itulah pola keluarga pertama di surga dan Allah ingin pola itu juga ada di bumi ini. Pola itu ada di negara, keluarga, termasuk di gereja. Dalam gereja, ada penatua sebagai gambar ayah, diaken sebagai gambar ibu, dan anggota jemaat sebagai gambar anak-anak.
Mengapa Allah membuat struktur ini? Apa tujuannya? Jika mempelajari “Hati Bapa”, kita dapat mengetahui bahwa tujuan Allah menciptakan bapa di muka bumi ini ialah agar kita belajar mengenal Allah Bapa yang ada di surga. Mengapa ada ibu? Supaya kita belajar sifat-sifat Roh Kudus, karena sifat Roh Kudus mirip seperti ibu. Siapa yang melahirkan kita? Pasti ibu. Siapa yang membuat kita lahir baru? Roh Kudus. Siapa yang menghibur kita? Roh Kudus. Di bumi, siapa penghibur kita? Ibu. Siapa penolong kita? Roh Kudus. Siapa penolong kita dalam keluarga? Ibu. Itulah gambaran Roh kudus. Mengapa ada anak-anak? Karena Yesus adalah Anak Allah sebagai teladan kita. Dia adalah sulung di antara anak-anak Allah. Jadi, mengapa ada keluarga? Tujuan keluarga ada untuk mewujudkan gambar Allah di muka bumi ini. Jika ada keluarga di muka bumi ini, gambar Allah akan lebih mudah terlihat.

2. Memperbanyak Gambar Allah
“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak…” (Kej. 1:28). Tujuan pernikahan yang kedua dapat ditemukan dalam ayat ini. Yang harus diingat adalah bahwa Allah melipatgandakan gambarNya bukan cuma secara fisik, tetapi secara rohani juga. Maka, jika Anda tidak mempunyai anak jasmani, muridkan lebih banyak orang dalam keluarga Anda. Itu sama nilainya dengan anak biologis hasil reproduksi alamiah Anda dan pasangan! Allah ingin persepsi kita dalam pernikahan adalah untuk melahirkan anak-anak ilahi, yaitu memperbanyak salinan gambar Allah di bumi.

3. Membawa Dampak bagi Dunia
Allah memakai keluarga sebagai alatNya. Itulah sebabnya, keluarga kita harus mempunyai visi yang benar. Alkitab juga mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk menaklukkan bumi dan memerintah atasnya. Maka sebagai gambar Allah, keluarga akan menjadi alat yang dahsyat di tangan Allah. Allah bisa memakai satu keluarga untuk berdoa bagi satu bangsa. Mandat untuk memerintah dunia, memberi dampak kepada dunia, diberikan kepada Anda sebagai keluarga, bukan kepada yang lain. Tidak heran, setan membenci keluarga, karena dia tahu bahwa ada kuasa yang luar biasa serta rencana Allah yang dahsyat di dalam keluarga. Jika keluarga-keluarga sudah pulih, dunia pun akan dimenangkan.

Suatu ketika, salah seorang kepala sekolah yang berasal dari Rusia kebetulan datang berlibur ke Amerika Serikat (AS). Di AS, ia tinggal bersama salah satu keluarga Kristen yang anaknya dididik dengan cara luar biasa. Anak remaja keluarga ini sangat taat kepada orang tuanya dan mengasihi mereka. Ketika guru Rusia ini melihat cara hidup anak itu, ia meminta didoakan dan bertobat. Ketika kembali ke Rusia, ia mengajak kepala sekolah yang lain untuk berlibur ke AS dan tinggal di rumah keluarga Kristen tadi. Ketika masing-masing kepala sekolah melihat hal itu, mereka pun terjamah hatinya dan bertobat serta menerima Yesus.
Sekembalinya di Rusia, kepala-kepala sekolah ini bersama-sama mendatangi menteri pendidikan Rusia dan berkata, “Pak, kami sudah menemukan cara pendidikan yang hebat.” Sang menteri bertanya, “Di mana?” Mereka menjawab, “Di Amerika.” Menteri itu hampir tidak percaya. Ia berkata, “Ah, Amerika..? Apakah kamu tidak tahu bahwa anak-anak muda Amerika suka melakukan kejahatan? Anak-anak di sana berambut gondrong dan bermain musik rock seenaknya. Itulah orang Amerika!” Namun mereka menjawab, “Tidak Pak. Kami sudah ke sana dan tidak semua anak muda di Amerika seperti itu. Pak, kita sudah menemukan bahwa kita yang komunis gagal untuk mendidik anak-anak kita. Ada satu sistem pendidikan yang sangat hebat dan itu adalah pendidikan Kristen Pak.” Lalu menteri pendidikan Rusia itu bertanya, “Apa mungkin ada yang begitu?” Mereka menjawab, “Jika Bapak tidak percaya, bagaimana jika kita mengirim satu pesawat yang mengangkut 300 anak-anak muda dari Amerika untuk datang ke Moskwa. Lalu, kita bawa anak-anak ini berkeliling ke sekolah-sekolah sebagai contoh model.”
Itulah pertama kalinya dalam sejarah dunia, pesawat Euro Ford mendarat di bandara Ohio di Chicago dan mengangkut 300 anak-anak muda yang dididik di dalam keluarga Kristen. Mereka adalah anak-anak ilahi. Dalam perjalanan itu, seluruh pilot, kopilot, dan para pramugari didoakan untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Setelah tiba di Moskwa, Rusia, mereka berpencar untuk bersaksi di mana-mana. Setiap hari, satu anak memenangkan rata-rata tiga orang sehingga dalam satu minggu saja, stadion penuh dengan manusia. Bill Gothard ditelepon untuk terbang ke Moskwa, dan ia berkhotbah di stadion. Hasilnya, mereka yang hadir menerima Yesus dan mengalami kelahiran baru.
Bill Gothard pun dibawa untuk menghadap sang menteri pendidikan, dan ini menjadi peristiwa yang sangat luar biasa. Menteri pendidikan itu menerima Yesus dan dalam waktu sepuluh menit, dan ia memutuskan bahwa Rusia akan memakai sistem pendidikan Kristen. Lebih hebat lagi, mereka dibawa menghadap kepada Presiden Boris Yeltsin untuk berdoa baginya. Melalui anak-anak ilahi itu, satu bangsa diubahkan Tuhan. Semua bermula dari keluarga yang hidup sesuai dengan tujuan Allah.
Marilah kita hidup menurut sasaran dan rencana Allah bagi keluarga kita. Awalilah dengan memiliki tujuan yang benar dalam pernikahan, dan percayalah bahwa keluarga Anda akan menjadi keluarga yang diberkati dan dijadikan berkat bagi dunia ini.

(sumber: buku “Tujuan dan Nilai Pernikahan” oleh Eddy Leo, Metanoia Publishing)