Berpacaran dalam komunitas

Berpacaran dalam komunitas

05/15/2018 0 By BIC

Peranan komunitas Kristen dalam hubungan asmara anak-anak Tuhan sebetulnya alkitabiah dan indah. Jika mengamati dengan cermat, Anda akan menyadari bahwa melibatkan komunitas justru dapat menambah sukacita dalam menjalani masa menjalin hubungan, sekaligus memperbanyak kesempatan untuk mengalami hubungan romantis yang bertahan lama dan memuliakan Tuhan.

Tetapi sebelum kita berbicara lebih lanjut, setidaknya ada dua hal yang perlu kita ingat, yaitu: pertama, ini bukan berarti bahwa Anda harus mengorbankan segala privasi dalam menjalin hubungan lawan jenis, karena memiliki waktu khusus untuk berduaan saja tentu tetap penting (selama dilakukan atas dasar nilai-nilai Firman Tuhan); kedua, ini juga bukan berarti bahwa Anda perlu mengandalkan orang lain (orang tua, pendeta atau pembina rohani) untuk mengambil keputusan tentang siapa yang akan Anda nikahi. Orang-orang lain tersebut diperlukan “hanya” sebagai peneguhan dari pilihan yang Anda ambil, namun yang utama adalah Anda sendiri mengandalkan Tuhan sebelum mengambil keputusan.

Masalah kita dewasa ini adalah kita begitu mementingkan privasi dan pilihan pribadi sehingga mengabaikan apa yang Alkitab ajarkan tentang perlunya melibatkan orang-orang Kristen lainnya bagi kehidupan pribadi kita. Memang benar, tidak ada orang yang berwenang menentukan dengan siapa kita akan menikah, tetapi betapa arogannya kita bila kita berpikir bahwa kita dapat mengambil keputusan berdasarkan pemikiran kita sendiri tanpa nasihat dari orang lain siapa pun! Selain itu, walaupun pasangan muda-mudi memerlukan waktu untuk berduaan saja, betapa picik dan bodohnya jika kita memisahkan diri dari dukungan dan hikmat dari orang-orang yang mengenal diri kita dengan baik.

Di seluruh Alkitab, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak menjalani kehidupan Kristen dengan jalan menyendiri. Supaya kita dapat mengejar kekudusan, menjadi lebih kuat dan setia, kita memerlukan orang-orang Kristen lainnya. Tuhan telah mengadopsi kita ke dalam keluarga baru. Bersama-sama, kita dipanggil untuk menjadi umat yang kudus, bukan hanya menjadi individu yang kudus (Ef. 5:3). Sementara orang-orang di dunia sekuler justru semakin mengisolasi diri, Tuhan mengatakan kepada kita bahwa Ia sedang membangun kita sebagai gerejaNya, tempat kediamanNya di dalam Roh (Ef. 2:22). “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef. 2:19). “Dan marilah kita saling memperhatikan,” penulis Ibrani berkata, “supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh bebeapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat,” (Ibr. 10:24-25).

Oleh karena itu, mari kita cermati bahwa ada tiga hal penting yang kita terima dari komunitas Kristen dalam proses kita membangun hubungan pranikah.

 

1. Komunitas mengingatkan kita tentang realitas

Cinta jelas sekali dapat mengaburkan persepsi seseorang tentang kenyataan. Ketika emosi dan perasaan kita sedang menggebu-gebu, sulit bagi kita untuk bersikap obyektif, melihat diri kita sendiri, melihat orang lain, dan melihat situasi kita secara akurat. Komunitas orang percaya dapat memberi “uji realitas” dengan berbagai cara.

Uji realitas memberi kita perspektif yang sehat tentang hubungan yang sedang kita jalani. Misalnya, tanpa hasil pengamatan dan nasihat seorang sahabat, sering kali kita tidak tahu bagaimana kondisi hubungan kita atau betapa kita perlu mengubah arah hubungan menjadi lebih serius.

Komunitas adalah tempat kita saling mengobservasi. Kencan atau waktu-waktu berduaan saja memang bagus, tetapi kalau kencan menjadi satu-satunya tempat di mana dua orang berinteraksi, besar kemungkinannya bahwa kedua sejoli tidak mendapat gambaran yang akurat tentang si pasangan. Itulah sebabnya, penting bagi dua orang yang sedang menjalin hubungan asmara untuk saling mengenal di tengah-tengah komunitas, yaitu di tengah-tengah keluarga, teman-teman sepergaulan dan di gereja (termasuk di kelompok kecil). Anda dapat menyebut komunitas itu habitat alami si pasangan. Jika Anda ingin tahu karakter dan sifat seekor singa yang sebenarnya, jangan pergi ke kebun binatang. Pergilah ke gurun Afrika! Di sanalah Anda baru dapat melihat temperamen, kemampuan dan perilakunya yang asli. Sama halnya, jika kita saling mengamati dalam situasi hidup yang sebenarnya, yaitu di tengah-tengah komunitas, kita dapat melihat sifat asli seseorang, dan inilah sifat yang akan muncul sesudah masa kencan berlalu.

Demikian pula, di sinilah pentingnya meluangkan waktu bersama keluarga. Sebagian orang mengganggap hal lini sepele. Bagi mereka, ini sepertinya kuno, bahkan kekanak-kanakan. Namun bagaimanapun juga, berinteraksi dengan orang tua kedua belah pihak dapat menjadi ajang uji realitas bagi sepasang sejoli. Bagaimana ia bersikap di tengah-tengah keluarganya, itulah pribadi dia yang asli. Prinsip ini juga berlaku di lingkungan teman-temannya. Bagaimana kelakuannya di tengah-tengah teman-temannya, itulah dirinya yang sesungguhnya.

 

2. Komunitas memberikan perlindungan

Biarlah diri Anda mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperoleh perlindungan yang dapat diberikan komunitas pada masa menjalin hubungan. Jika gadis yang Anda sukai mempunyai seorang ayah Kristen, ayahnya itu harus menjadi orang pertama yang Anda temui. Dengan meminta izin untuk menjalin hubungan dengan anaknya, Anda menghormati sang ayah dan memberi diri untuk bekerja sama dengan sang ayah dalam memberi perlindungan pada si gadis itu. Sebaliknya jika Anda, sebagai gadis, mempunyai ayah yang mengasihi Tuhan, Anda sangat perlu melibatkan ayah Anda ke dalam urusan ini. Bicaralah kepada ayah dan ibu Anda tentang calon suami seperti apakah yang sedang Anda doakan. Mintalah nasihat mereka. Anggaplah ayah Anda sebagai “penyaring” para pria. Beri tahu ayah Anda, siapa saja yang ada dalam daftar pria pilihan Anda, dan berikan kesempatan kepada ayah Anda untuk menyampaikan penilaiannya dalam rangka melindungi Anda sebagai anak gadisnya yang ia kasihi.

 

3. Komunitas membuat kita bertanggung jawab

Tanggung jawab seorang Kristen untuk mengundang orang lain dalam proses menjalin hubungan pranikah bertujuan untuk menolong dirinya sendiri untuk dapat hidup atas dasar kebenaran Firman Tuhan. Artinya, kita meminta mereka untuk mencari tahu dan bertanya kepada kita apa saja, demi menjaga perilaku kita agar tetap sesuai dengan kebenaran.

Alkitab sarat dengan peringatan tentang kenyataan dosa di dalam hati. Yeremia 17:9 berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu, siapakah yang dapat mengetahuinya?” Dalam 1 Yohanes 1:8, kita juga membaca, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.”

Kenyataan bahwa hati kita dapat mengkhianati diri kita sendiri, akan memperingatkan kita akan perlunya saudara seiman untuk menolong kita menyelesaikan pertandingan iman dan menolak dosa. Komunitas, dengan demikian, “memaksa” kita untuk bertanggung jawab dalam menjalani hidup dan hubungan pranikah.

Itulah sebabnya, jemaat lokal Abbalove menyediakan pelayanan Bimbingan PraNikah (BPN) bagi setiap jemaat yang rindu untuk dapat membangun hubungan pranikah yang kudus dan berkenan di hati Tuhan. Dalam pelayanan BPN, Anda akan didampingi oleh para pembina pranikah yang terdiri dari pasangan suami istri yang telah diperlengkapi secara khusus dan direkomendasikan oleh penatua jemaat di mana Anda beribadah, dalam proses Anda berdua menjalin hubungan.