Happy Singleness

Happy Singleness

05/15/2018 0 By BIC

Akhir-akhir ini, kami sering bertemu dengan kaum single yang sedang galau. Beberapa pertanyaan yang mereka ajukan antara lain:

“Kak, menurut Kakak kenapa saya belum menikah?”
“Kak, coba saya dites, kenapa saya belum juga dapat jodoh?”
“Kak, saya ini menikah atau nggak sih nantinya..?”

 

Hmm… Mungkin mereka berpikir saya seperti peramal, yang bisa mengetahui hidup dan masa depan mereka.

Selain itu, ada beberapa pernyataan yang mereka sampaikan tentang status single, seperti:

“Saya rasa single saya ini kutuk, Kak, soalnya…”
“Mungkin takdir saya memang tidak menikah.”
“Saya memang orang yang suka gagal, termasuk gagal terus dalam berpacaran.”

Mendengar pernyataan mereka, ada perasaan sedih di hati kami, karena mereka masih memiliki mindset yang keliru. Kami pun menyampaikan jawaban kami:

“Sandra (nama samaran), kamu ‘kan sudah percaya Tuhan. Kamu sudah terima Tuhan Yesus sebagai Penebus. Kamu sudah tidak berada dalam kutuk lagi. Single-mu ini bukan kutukan!”

“Rudi (nama samaran juga), menikah atau tidak menikah itu BUKAN takdir. Kita memiliki kehendak bebas untuk menikah atau tidak menikah. Tuhan menyerahkannya kepada kita. Tuhan mau menolongmu menemukan pasangan yang sepadan jika kamu berkomunikasi denganNya.”

“Ani (lagi-lagi nama samaran), janganlah mencap diri sendiri negatif. Introspeksi dan perbaiki dirimu saja, itu jauh lebih bermanfaat!”

 

Yang dimaksud single di sini adalah pria atau wanita yang berada pada taraf usia dewasa muda, yaitu antara 20 sampai 40 tahun, dan belum menikah. Pada waktu berusia 20-an awal, kaum single biasanya belum cukup galau bila belum memiliki pacar atau pasangan hidup. Mereka masih menikmati masa-masa kesendirian mereka dan bisa aktif melakukan berbagai kegiatan seperti sekolah, bekerja dan mengaktualisasikan diri dalam berbagai kegiatan. Perasaan galau biasanya mulai muncul ketika usia semakin bertambah dan satu per satu teman-temannya mulai menikah. Orang tua, saudara-saudara, atau teman-teman yang sudah lebih dulu menikah mulai sering menanyakan kapan dirinya menikah dan mendesaknya untuk segera menikah. Perasaan galau makin meningkat ketika mulai ada suara-suara yang memberi penilaian tentang sebab-sebab ia belum menikah seperti “terlalu pilih-pilih”, “terlalu sibuk bekerja/kurang bergaul”, “bentuk tubuh atau penampilan wajah kurang menarik”, dan lain-lain. Jika sudah mulai ada bisik-bisik yang memberi label kepadanya sebagai “tidak laku”, “berat jodoh”, “perjaka atau perawan tua”, reaksi yang berlebihan dan ekstrem pun muncul dari kaum single yang galau ini.

 

Macam-macam reaksi ekstrem dari kaum single yang galau terlihat di sekitar kita. Golongan yang pertama adalah kaum single yang berupaya sangat/terlalu keras untuk segera mendapatkan jodoh, misalnya dengan serius mencari-cari calon pasangan yang kira-kira mau diajak menikah. Ia menerima tawaran untuk dijodohkan dengan siapa pun yang dianggap cocok oleh orang lain (apalagi jika orang lain itu adalah orang tua atau figur lain yang dihormati). Bila sudah ada calon yang dirasa cocok, ia pun melakukan pendekatan terus tanpa memperhatikan lagi apakah calon yang disasarnya ini mau atau tidak menjadi pasangannya. Sebagian di antaranya bahkan menerima saran-saran yang kurang logis, seperti mau saja disuruh mandi kembang atau yang kesannya rohani dengan ngotot berdoa dan berpuasa kepada Tuhan supaya bisa mendapatkan jodoh. Golongan yang kedua adalah yang sebaliknya, yaitu mereka yang menunjukkan sikap tidak peduli dengan urusan jodoh. Mereka menampilkan sikap yang tidak antusias bila diajak untuk bersosialisasi atau diperkenalkan dengan seseorang. Mereka lebih banyak menyibukkan diri dengan kegiatan di luar urusan pasangan hidup dan berupaya menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja tanpa pasangan. Hal ini dapat terjadi karena mereka sudah putus asa, merasa tidak akan mendapat jodoh, atau takut gagal jika membuka diri untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Golongan yang ketiga adalah kombinasi dari kedua ciri-ciri di atas. Golongan ini tidak memiliki ketetapan hati, dan perilakunya tergantung pada situasi di luar dirinya dan dorongan dari orang-orang di sekitarnya.

 

Kawan-kawan kaum single, tenangkan diri Anda dan mulailah berpikir secara jernih kembali. Daripada terombang-ambing oleh suara-suara dan desakan dari luar diri untuk segera menikah, perhatikan diri kita dengan lebih cermat lagi, apakah memang kita sudah siap untuk menikah?

 

Secara umum, ciri-ciri orang yang sudah siap untuk menikah adalah harus sudah matang secara:

1. Fisik, yaitu berusia cukup untuk menikah (usia dewasa muda), serta memiliki alat dan sistem reproduksi yang sehat bila berencana untuk memiliki anak.

2. Finansial, yaitu mampu memperoleh uang/penghasilan sendiri, sehingga mampu menghidupi diri sendiri dan juga keluarganya kelak, tidak tergantung dengan orang lain lagi.

3. Emosi, yaitu mampu mengelola emosi dengan baik sehingga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, tidak mudah marah, cemburu, iri, tersinggung, sakit hati, dll, sehingga dapat bersikap tenang dalam menghadapi masalah dalam keluarga serta mampu mengekspresikan perasaannya secara tepat.

4. Moral, yaitu dapat membedakan yang baik dan yang buruk, dapat memilih yang baik untuk dirinya sendiri dan orang lain, peka dengan nilai-nilai masyarakat, serta dalam mengambil tindakan atau keputusan mempertimbangkan kebaikan orang lain juga.

5. Mental, yaitu mampu menghadapi masalah dengan percaya diri, dewasa dalam bersikap, bertanggung jawab, memiliki pendirian yang teguh, dan siap menanggung konsekuensi dari pilihannya.

6. Spiritual, yaitu memiliki kehidupan spiritual yang baik, mengenal dan memiliki hubungan dengan Tuhan secara pribadi, memiliki iman yang teguh, mampu mengarahkan orang lain dan keluarganya kelak untuk juga memiliki kehidupan spiritual yang berkualitas.

 

Untuk mengetahui apakah kita sudah cukup matang, ada baiknya kita tidak hanya menilai diri secara subyektif, namun dengan bertanya kepada orang lain yang kompeten di bidang ini atau bertanya kepada orang-orang yang dinilai dewasa serta baik secara rohani. Jika dirasa masih ada aspek yang belum cukup memenuhi syarat, kaum single justru patut bersyyukur, karena masih memiliki waktu untuk berfokus pada usaha mengembangkan dan mematangkan diri sebelum menikah. Merupakan hal yang berisiko tinggi bila kaum single memasuki pernikahan tanpa memiliki cukup kematangan pada aspek-aspek di atas. Hasil penelitian menunjukkan orang-orang yang tidak matang pada aspek-aspek di atas akan menjalani kehidupan pernikahan yang rentan bercerai. Karena itu, masa single adalah masa fokus bagi manusia untuk mengembangkan dan mematangkan diri dalam situasi membangun hubungan yang baik dan wajar di antara sesama kaum single.

 

Secara khusus, kriteria kesiapan menikah yang bahkan lebih penting daripada kematangan pribadi pada aspek-aspek di atas adalah pengertian akan pernikahan itu sendiri bagi kita sebagai orang percaya. Meskipun keenam aspek di atas sudah dipenuhi oleh seorang single sehingga secara umum dapat dinilai siap untuk menikah, kaum single Kristen perlu menyadari benar bahwa:

 

1. Pernikahan bukanlah tujuan hidup orang percaya, namun merupakan sarana untuk mencapai tujuan hidup orang percaya, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna (Mat. 5:48). Sempurna yang dimaksud adalah memiliki pikiran, perasaan dan kehendak seperti Kristus. Seperti dalam Amsal 27:17 dikatakan bahwa besi menajamkan besi dan orang menajamkan sesamanya, pasangan hidup kita sering Tuhan pakai untuk memunculkan kepribadian kita yang sebenarnya dan Tuhan ingin kita berlatih sampai mampu berespons sesuai dengan pikiran, perasaan dan perilaku Kristus. Memiliki pasangan yang sama-sama memahami hal ini akan menjadikan kita efektif untuk saling membangun agar serupa seperti Kristus.

2. Pernikahan merupakan media/alat untuk kita memenuhi keinginan dan kepuasan pribadi, namun justru media/alat untuk kita memenuhi rencana Tuhan dalam hidup kita. Kadang, kita harus menghadapi masalah dan tantangan dalam mewujudkan rencanaNya. Kita sebagai hambanya harus siap menghadapi semuanya ini dan terus berjuang agar rencana Tuhan terwujud melalui pernikahan kita. Dengan berfokus bahwa pernikahan adalah untuk Tuhan dan bukan untuk keinginan diri sendiri, kita juga dilatih untuk tidak berfokus pada masalah dan ego pribadi, namun pada kehendak Tuhan.

 

Sekarang mari kita bayangkan jika kita salah dalam memiliki pasangan hidup. Karenakan merasa didesak untuk menikah, kita segera menikah tanpa memiliki kesiapan dan pengertian yang benar tentang menikah di dalam Tuhan, dan kita salah memilih hingga menikah dengan pasangan yang tidak seimbang. Maka, dalam pernikahan tersebut kita hanya akan direpotkan oleh masalah dan ego pribadi serta ego pasangan, bukan berfokus untuk menyenangkan dan melayani Tuhan. Jika kita salah memilih pasangan hidup, kita pun tidak akan sanggup menjalani hidup ini. Pasangan yang salah juga dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Untuk bisa mengerti lebih lanjut tentang jodoh dan pernikahan, kami menyarankan agar kaum single membaca kembali artikel di build! edisi bulan Desember 2015 yang berjudul “Jodoh dan Pernikahan yang Sempurna”.

 

Akhirnya, wahai kaum single, janganlah galau lagi. Isilah masa single dengan hal-hal yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Manfaatkan kesempatan emas dan waktu yang ada ini untuk menjadi pribadi yang utuh di dalam Tuhan, mengembangkan kematangan diri dari berbagai aspek agar siap jika tiba waktunya untuk mengarahkan pasangan dan keluarga, dan semakin mendekat kepada Tuhan supaya diberi arahan dan petunjuk yang benar dalam menjalani hidup dan juga untuk mendapatkan pasangan hidup yang sepadan. Sekali lagi, menjadi single bukanlah kutukan. Kehidupan single yang optimal tentu akan memberkati orang lain, dan kehidupan single yang percaya diri secara sehat tentu akan dihargai juga oleh orang lain. Meskipun mungkin sebagian orang tetap tidak memahami kehidupan single yang positif, kaum single yang sehat seharusnya tidak perlu terganggu dan justru dapat memahami dan memaklumi orang-orang itu.

 

Sejalan dengan upaya untuk meningkatkan kematangan diri dan pengenalan akan Tuhan yang lebih lagi, kami percaya Tuhan akan menuntun hidup Anda ke rencanaNya yang indah, yang mungkin salah satunya adalah pernikahan yang mulia dan diperkenan Tuhan. Namun, ingatlah, fokusnya bukanlah pada menikah atau tidak menikah, melainkan bagaimana membuat hidup Anda senantiasa memuliakan Tuhan dan terus bertumbuh menuju keserupaan dengan Kristus. Tidak ada hal, termasuk pernikahan, yang lebih penting daripada ini. Jadilah single yang happy, dan selamat menikmati masa single yang berbahagia di dalam takut akan Tuhan.