Inilah KASIH itu…

Inilah KASIH itu…

05/15/2018 0 By BIC

Sekarang saya mulai mengerti bahwa peranan Allah di dalam kehidupan saya sangat memengaruhi pendekatan saya dalam hal percintaan, bahkan hal itu benar-benar mengubah seluruh pemahaman saya.  Allah bukan saja menginginkan saya untuk mengubah sikap, namun Ia menginginkan saya untuk mengubah cara berpikir: cara saya memandang cinta, kesucian dan kesendirian dari sudut pandangNya, sehingga saya memiliki suatu gaya hidup yang baru dan suatu sikap yang baru dalam seluruh hal ini.

Dasar dari gaya hidup dan sikap yang baru ini adalah kasih Allah kepada kita. Yohanes menjelaskan hubungan antara kasih Allah dengan cara kita berhubungan dengan orang lain di dalam 1 Yohanes 4:10-11:

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”

Mengertikah Anda apa yang dikatakan oleh Yohanes ini? Kasih Allah yang begitu besar kepada kita di atas kayu salib memberikan teladan dan kekuatan bagi kita untuk mengasihi orang lain. Orang-orang yang dosanya telah diampuni melalui iman oleh kematian Yesus di atas kayu salib tidak dapat hidup (artinya, tidak dapat melakukan apa pun di dalam hidupnya, termasuk tidak dapat mencintai) dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Biasanya kita dikendalikan oleh apa yang kita anggap baik dan menguntungkan diri kita, tetapi sekarang, sebagai ciptaan baru, kita dikendalikan oleh kasih Allah. Di  dalam 2 Korintus 5:14-15, Paulus menulis:

“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”

Alkitab mengajarkan bahwa jika kita sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, kita mati bagi cara hidup kita yang lama. Kita tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, namun sekarang kita hidup bagi Allah dan bagi orang-orang lain.

Karena itulah, hubungan dengan lawan jenis sekarang tidak lagi tentang “menikmati saat-saat indah” atau “mencari tahu apa yang aku inginkan dari sebuah hubungan”. Hubungan itu bukan lagi untuk mendapatkan (cinta), tetapi untuk memberi (kasih). Setiap hubungan bagi orang Kristen, bukan hanya hubungan lawan jenis, merupakan suatu kesempatan untuk mengasihi orang lain seperti Allah telah mengasihi dirinya. Dengan demikian, hubungan pranikah lawan jenis berarti mengesampingkan keinginan-keinginan kita dan melakukan apa yang diinginkan oleh pasangan kita, mengasihi dia walaupun mungkin tidak ada yang ia dapat berikan bagi kita, serta menginginkan kesucian dan kemurnian dari pasangan kita karena hal itu menyenangkan Allah dan melindungi pasangan kita.

Saya kini memahami, bahwa hubungan yang kita lakukan dengan dikendalikan oleh kasih Kristus menjadi sangat berbeda dibandingkan dengan hubungan-hubungan “biasa” yang terjalin di antara orang-orang di sekitar kita.

Jadi, sejak beberapa tahun belakangan ini, saya telah berusaha membiarkan kasih Allah sebagaimana yang telah ditunjukkanNya di kayu salib menetapkan cara saya mengasihi orang lain, termasuk lawan jenis. Kasih Allah itu menuntun pada beberapa perubahan paling praktis dalam cara seseorang mengadakan pendekatan dalam menjalin hubungan. Secara pribadi, saya telah tiba pada beberapa kesimpulan hebat bagi kehidupan saya. Saya kini menyadari bahwa meskipun persahabatan dengan lawan jenis terasa menyenangkan, saya tidak berkepentingan untuk menarik hati seorang gadis dan meminta perhatian khusus darinya jika saya belum siap untuk mempertimbangkan tentang pernikahan dengan gadis itu. Sebelum saya dapat melakukan hal itu, saya justru hanya akan memanfaatkan gadis itu untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek saya (yaitu keinginan untuk diperhatikan/dicintai/dipuaskan), bukan untuk memberkati dan mengasihinya secara jangka panjang.

Apakah saya menikmati jika memiliki seorang pacar saat ini? Tentu saja, pasti asyik rasanya! Tetapi, saya memilih untuk tidak melakukannya, karena saya tidak akan sungguh-sungguh mengasihi dia dan mendahulukan kepentingannya jika saya belum siap mempertimbangkan untuk berkomitmen menikah. Di sinilah saya melihat melalui proses mencari kehendak Allah bagi hidup saya, bahwa saat ini bukanlah waktu terbaik bagi saya untuk membangun suatu hubungan pranikah dan dengan demikian bukanlah waktu terbaik juga bagi orang yang saya ajak berpacaran. Sebaliknya, dengan menghindari hubungan percintaan sebelum Allah memberi tahu saya bahwa saya telah siap, saya kini menjadi lebih mampu mengganggap gadis-gadis itu sebagai teman dan tetap bebas memfokuskan diri saya kepada Allah.

Kini, walaupun saya tidak terikat dalam hubungan percintaan, saya mengasihi teman-teman wanita di dalam kehidupan saya lebih daripada yang pernah saya lakukan di masa lalu. Ini bukanlah bentuk cinta yang egois yang sering kali saya lakukan di masa lalu, namun saya mengasihi mereka berdasarkan kasih itu: kasih yang sejati yang Allah telah berikan kepada saya lebih dahulu. Inilah kasih itu: yang sejati, yang tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata yang dibisikkan dengan gairah atau melalui ciuman mesra dan pelukan erat, tetapi yang sebelum dua orang menikah diungkapkan dalam pengendalian diri, kesabaran, tanpa kata-kata yang terlalu dini diucapkan.