Jomblo nan ramah

Jomblo nan ramah

05/15/2018 0 By BIC

Sebagai seorang wanita (juga pria) Kristen yang masih lajang (“jomblo”), Anda terutama akan bertemu orang-orang di kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan gereja atau di tempat kerja. Semakin banyak kegiatan Anda, semakin banyak pula “pendatang baru” yang muncul dalam hidup Anda. Anda mungkin mulai bertanya-tanya apa yang harus Anda lakukan dengan para pendatang baru ini.

Mungkin Anda heran, tetapi Allah memerintahkan agar kita “berusaha untuk selalu memberi tumpangan”. Menurut kamus, keramahtamahan berarti “kesukaan/kesediaan menerima tamu”. Bahkan, definisi Alkitab yang asli memperluas definisi ini kepada orang-orang asing yang belum dikenal juga. Dalam 1 Timotius 3:2 dan Titus 1:8, disebutkan bahwa seorang penilik atau diaken gereja harus “suka memberi tumpangan”. Dalam 1 Petrus 4:9, kita juga membaca bahwa kita harus “memberi tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut”. Roma 12:13 juga memerintahkan agar kita “berusaha untuk selalu memberi tumpangan.” Definisi keramahtamahan ini dapat diperluas lagi dengan memberikan waktu dan energi kita bagi orang lain. Bersikap menyenangkan, baik hati, penuh pengertian, dan beramah-tamah merupakan kebajikan-kebajikan yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh orang Kristen.

Bagaimana Anda dapat melakukannya? Cobalah bergaul dengan orang lain. Usahakan untuk mengundang mereka ke rumah Anda, perhatikan hari-hari ulang tahun, kebutuhan pesta pernikahan atau pesta bayi, bawakan sepiring kue istimewa buatan Anda atau roti yang masih hangat kepada orang-orang di departemen Anda, sisihkan waktu untuk mencari kartu ucapan yang cocok, atau berikan kado kecil khusus untuk orang yang sedang sakit atau berduka.

Cara terbaik untuk menyempurnakan keterampilan Anda dalam menjamu adalah dengan melakukannya. Pelajari teknik-teknik untuk mengadakan sebuah pesta sederhana atau acara kumpul-kumpul, lalu praktikkan. Anda akan tercengang melihat betapa banyaknya orang yang mencari tempat untuk berlibur atau berakhir pekan. Jangan hanya mau menjadi tamu atau berpikir untuk menunda peran Anda sebagai tuan rumah sampai Anda menikah, tetapi cobalah misalnya bekerja sama dengan seorang teman lain untuk bersama-sama mencari informasi dan menanggung biaya untuk mengadakan sebuah acara kumpul-kumpul kecil dengan alasan yang membangun, misalnya menjadi tempat pertemuan rutin komsel.

Jika Anda tidak merasa termotivasi untuk menjamu banyak orang di rumah Anda, gereja Anda sendiri akan sangat menghargai penerapan keterampilan Anda. Hampir semua gereja menerapkan pelayanan penyambut dan pengantar tamu (usher), panitia penerima tamu (hospitality) dan sukarelawan-sukarelawan untuk menjenguk orang sakit (tim besuk) dan para manula. Ada banyak sekali kesempatan yang tersedia untuk Anda memanfaatkan kecenderungan Anda memberi tumpangan. Mengapa Anda harus bingung? Praktik kesediaan memberi tumpangan sebenarnya adalah tindakan lanjutan dari keramahtamahan. Anda akan menemukan bahwa “memecah-mecah roti” dengan orang lain (berkumpul dan makan bersama) adalah salah satu cara yang terbaik untuk mengikat hubungan dengan mereka. Alkitab mendukung hal ini. Menurut Anda, apa itu perjamuan malam terakhir? Salah satu intinya adalah peneguhan ikatan persahabatan antara Yesus dan murid-muridNya.

Perhatikan apa yang Yesus demonstrasikan ketika Ia mengubah air menjadi anggur di pesta pernikahan di Kana, ketika Ia makan malam di rumah Zakeus, atau bahkan ketika Ia mengunjungi rumah para “pemungut cukai dan pendosa”. Hambatan pengertian antara Manusia Allah dan orang-orang yang mau diselamatkanNya lenyap ketika Ia makan malam bersama mereka dan menikmati keramahtamahan mereka. Anda akan melihat bahwa hambatan antara Anda dan orang-orang lain akan mulai hancur ketika Anda, dengan cara yang sama, menawarkan kepada mereka kesempatan untuk menikmati keramahtamahan yang Allah berikan kepada Anda.

Selanjutnya, peringatan terakhir yang perlu kita perhatikan adalah yang Allah berikan langsung dari FirmanNya,. Ketika Anda keluar dan bergaul, Alkitab memperingatkan untuk tidak berlama-lama berada dalam situasi terlalu intim. Allah memperhatikan setiap aspek kehidupan kita, dan Ia tidak melewatkan hal tersebut. Ia ingin kita cukup peka tentang keadaan orang-orang di sekitar kita, sehingga kita dapat menangkap tanda-tanda yang menunjukkan “sudah cukup”. Amsal 25:17 menyatakan hal ini dengan cara yang amat tepat dengan menyarankan, “Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu supaya jangan ia bosan, lalu membencimu.”

Semuanya ini sebenarnya bukan merupakan tindakan yang terlalu istimewa, tetapi merupakan perintah Allah, Anda akan tercengang melihat dampak positifnya terhadap kehidupan Anda. Seperti dengan semua yang ada Firman Allah, Anda hanya perlu mencobanya untuk menyaksikan hasil-hasilnya dalam hidup Anda sendiri. Majulah dan berhentilah menunda-nunda. Anda tidak akan kehilangan apa-apa, justru banyak persahabatan baru telah menanti Anda.

sumber