Menjadi suami yang berhasil

Menjadi suami yang berhasil

05/15/2018 0 By BIC

Hampir semua pria dapat dipastikan ingin menjadi suami yang berhasil. Untuk mencapai harapan itu, kita dapat belajar melalui kegagalan-kegagalan yang pernah dialami. Mungkin di antara Anda banyak yang pernah mencoba untuk menjadi suami yang berhasil, tetapi ternyata Anda merasa bahwa hal itu begitu sukar dan penuh dengan pergumulan. Atau, mungkin Anda merasa ada karakter-karakter tertentu dalam diri Anda yang belum menunjukkan sebagai seorang suami yang baik. Jangan putus asa! Teruslah berjuang sampai menjadi seorang suami yang berhasil di dalam Tuhan.

Ada seorang suami yang mempunyai masalah hubungan yang kurang baik dengan sang istri. Ia selalu ingin agar istrinya tunduk kepadanya, tetapi yang terjadi tidaklah demikian. Istrinya selalu memberontak dan tidak taat kepadanya. Jika ia berkata sesuatu kepada istrinya, istrinya dengan sengaja justru melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang ia katakan itu. Sejak ia kecil, ayahnya selalu berkata, “Jika nanti kamu punya istri, hati-hatilah. Jangan percaya kepada wanita, sebab wanita itu adalah makhluk yang sangat manipulatif. Wanita itu merepotkan. Kamu harus tegas dan keras terhadap wanita dan jangan memusingkan reaksinya. Jika kamu tidak berbuat demikian, tidak mungkin istrimu akan taat. Kamu harus keras. Itulah cara untuk membuat seorang istri taat kepada suaminya.” Tanpa sadar, ia telah memercayai ajaran yang salah dari orang tuanya. Orang tuanya tidak mengajar dia bagaimana menjadi suami yang baik. Namun, orang tuanya mengajarnya untuk menjadi seorang diktator di dalam keluarga.

Kejadian 3:16 berkata, “Firman-Nya kepada perempuan itu: ‘Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.’”

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, ada satu kecenderungan yang sama dalam diri suami maupun istri. Karena para suami merasa tidak aman, mereka cenderung ingin berkuasa atas istri mereka. Untuk membuat istri mereka tunduk dan taat, mereka memakai cara kekerasan. Menurut asal katanya, kata “berkuasa” di sini maksudnya adalah “mendominasi”, atau lebih ekstrem lagi, “bersikap sebagai diktator, memaksakan penundukan diri dari orang lain”. Jadi, kita dapat melihat bahwa semua pria cenderung melakukan hal ini. Pria tadi berpikir bahwa supaya ia dihormati, ia harus bersikap keras, lebih cerdik, dan sebagainya. Ini adalah gambaran yang palsu tentang bagaimana seharusnya seorang pria menjadi seorang suami. Jika Anda menjadi suami yang seperti itu, Anda tidak akan berhasil. Mengapa? Itu tidak sesuai dengan prinsip kebenaran yang Alkitab katakan. Alkitab memberikan kita kunci bagaimana kita dapat menjadi seorang suami yang berhasil.
“Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Ef. 5:25)

Jadi, bagaimana Anda dapat menjadi suami yang berhasil? Belajarlah dari Kristus. Mungkin Anda adalah suami yang belum sempurna dan masih mempunyai banyak kekurangan. Atau, mungkin Anda adalah suami yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Atau, mungkin juga Anda suami yang secara ekonomi bukanlah orang kaya. Atau, latar belakang Anda bukanlah orang yang terkenal dan bukan dari keluarga yang hebat. Meski demikian, Anda bisa menjadi suami yang berhasil jika Anda mengasihi istri Anda. Mengasihi adalah kuncinya.

Tahukah Anda bahwa ini adalah prinsip yang bukan hanya diajarkan tetapi juga dilakukan oleh Kristus sendiri? Kristus telah lebih dulu mengasihi gereja-Nya dengan menyerahkan nyawa-Nya, maka gereja tunduk dan taat kepada Kristus. Berdasarkan kebenaran ini, istri yang sulit taat kepada suaminya memang bersalah, tetapi Anda sebagai suami adalah yang pertama-tama dituntut untuk bertanggung jawab mengasihi istri. Jika Anda tidak lebih dulu mengasihi istri Anda, jangan heran bahwa istri Anda sulit tunduk kepada Anda. Wanita secara alamiah adalah makhluk yang lebih lemah dan halus, ia tidak bisa Anda perlakukan dengan kasar. Otoritas Anda hanya akan muncul, bertumbuh menjadi semakin kuat dan menjadi otoritas yang ilahi, jika Anda mempraktikkan kebenaran ini. Kebenaran inilah yang akan memunculkan otoritas suami, sehingga para istri akan mudah sekali menghormati dan mengagumi suami mereka. Yang dunia butuhkan bukanlah sekadar kekayaan, kepandaian, atau status baik. Yang dunia butuhkan adalah kasih. Yang istri butuhkan adalah kasih. Itu nomor satu. Ketaatan dan penundukan diri istri akan timbul dengan sendirinya setelah Anda sebagai suami benar-benar mengasihinya. Jadi, mulailah belajar mengasihi istri Anda.

Bagaimana cara mengasihi istri?
“Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.” (Ef. 5:28-29)
Untuk belajar mengasihi istri Anda, gunakan kebenaran ini sebagai patokan. Kasihilah istri Anda seperti Anda mengasihi diri Anda sendiri, yaitu misalnya tubuh Anda. Hanya orang gila yang memukul-mukul badannya sendiri dan menyakiti tubuhnya sendiri. Pernahkah gigi Anda “membuat kesalahan”? Misalnya menggigit lidah Anda? Ketika gigi Anda sudah 50 kali mengigit lidah Anda, apakah Anda memutuskan tidak akan mengampuni gigi Anda lalu memanggil dokter gigi dan mencabut gigi Anda satu per satu? Tentu tidak! Tidak seorang pun yang waras akan berbuat seperti itu. Walaupun gigi itu “bersalah”, Anda tetap mengasihinya karena ia tetaplah gigi Anda. Gigi itu adalah anggota tubuh Anda. Demikianlah suami dan istri menurut Alkitab.
Jika Anda sebagai suami suka memukul, Anda adalah orang gila. Seorang suami Kristen yang benar tidak akan memukul istrinya. Bahkan, ia tidak akan menyakiti istrinya kecuali tanpa sengaja. Jika ia melakukannya, itu berarti ia tidak mengasihi tubuhnya sendiri. Ia belum menghayati bahwa istrinya adalah tubuhnya sendiri. Demikian juga, jika istri Anda memiliki kekurangan atau kesalahan, janganlah pernah Anda menceraikannya. Anda bahkan seharusnya merawatnya dan menuntunnya untuk menjadi lebih baik. Istri Anda memang belum sempurna dan mungkin masih melakukan banyak kesalahan, tetapi Anda harus mengampuninya. Istri Anda adalah bagian hidup Anda yang tidak pernah boleh dipisahkan. Inilah kasih. Jika seorang suami mengasihi istrinya, akan mudah bagi sang istri untuk tunduk kepadanya.

Apakah Anda mau berkomitmen untuk menjadi suami yang baik dan berhasil dengan belajar mengasihi istri Anda? Mulailah dari hati Anda hari ini. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi Tuhan mencari orang yang hatinya rela dibentuk. Mari kita merendahkan hati dan berkata, “Tuhan, aku mau menjadi suami yang berhasil.”