Pacaran yang merusak

Pacaran yang merusak

05/15/2018 0 By BIC

Tidak ada seorang pun yang ingin menghadapi kenyataan bahwa hubungan yang sedang dibangun dengan sang pujaan hati sesungguhnya adalah hubungan pacaran yang merusak masa depannya sendiri. Tetapi, menyadari kemungkinan ini tidaklah mudah bagi pribadi yang sedang mengalami suasana hati yang penuh asmara dengan seseorang.

Dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, Joshua Harris menjelaskan adanya tujuh kebiasaan berpacaran yang akan merusak masa depan hubungan itu sendiri.

1. Pacaran yang cenderung melewatkan tahap persahabatan dalam suatu hubungan

Dalam berpacaran, daya tarik romatis sering kali merupakan landasan hubungan. Dasar pemikiran dari berpacaran adalah “saya tertarik kepadamu, maka marilah kita lebih saling mengenal”. Sebaliknya, dasar pemikiran persahabatan adalah, “kita memiliki minat yang sama, jadi marilah kita menikmati kesamaan minat kita bersama-sama”. Jika daya tarik romantis terbentuk setelah mengembangkan suatu persahabatan, itu adalah bonus tambahan. Keintiman tanpa komitmen adalah memperdayakan. Keintiman tanpa persahabatan adalah dangkal. Suatu hubungan yang hanya didasarkan pada daya tarik fisik dan perasaan romantis hanya akan bertahan selama perasaan itu ada.

 

2. Pacaran yang cenderung menyamakan cinta dengan hubungan fisik

Pacaran seperti ini akan sering kali mengarah pada keintiman fisik. Karena pacaran tidak menuntut komitmen, kedua orang yang terlibat membiarkan kebutuhan-kebutuhan dan gairah-gairah yang muncul saat itu mengambil posisi utama. Pasangan itu tidak saling memandang sebagai calon pasangan hidup atau mempertimbangkan tanggung jawab untuk menikah. Sebaliknya, mereka memfokuskan diri pada tuntutan keinginan pada saat itu. Dengan cara berpikir seperti itu, hubungan fisik pasangan tersebut dengan mudah bisa menjadi fokus. Memfokuskan diri pada fisik jelas berdosa. Allah menuntut kesucian seksual, karena Ia sendiri adalah suci. Ia juga menuntut hal itu untuk kebaikan kedua pasangan, karena keterlibatan fisik dapat merusak cara pandang mereka masing-masing dan menuntun mereka pada pilihan-pilihan yang tidak bijaksana. Keterlibatan fisik memang bisa membuat dua orang merasa dekat, tetapi jika banyak orang sungguh-sungguh menguji fokus dari hubungan pacaran mereka, mungkin mereka akan menemukan bahwa kesamaan yang mereka miliki hanyalah hawa nafsu.

 

3. Pacaran yang mengisolasi pasangan dari hubungan penting lainnya

Dari definisinya, pacaran adalah tentang dua orang yang saling memfokuskan diri satu dengan yang lain. Sayangnya, dalam banyak kasus, orang-orang lain di dalam kehidupan hanya dijadikan latar belakang. Tentu saja kita dapat membuat kesalahan yang sama dalam beberapa hubungan nonromantic, tetapi kita menghadapi masalah ini lebih sering dalam hubungan percintaan karena hubungan-hubungan tersebut melibatkan hati dan emosi kita. Lagipula karena pacaran berfokus pada rencana-rencana sepasang kekasih, hal-hal besar yang berhubungan dengan pernikahan, keluarga, dan imanlah yang mungkin dipertaruhkan. Jika kedua orang tidak mendefinisikan tingkatan komitmen mereka, mereka menempatkan diri untuk menanggung risiko yang besar. Anda berada dalam posisi yang tidak aman jika mengisolasi diri dari orang-orang yang mengasihi dan mendukung Anda hanya karena sepenuh hati masuk dalam hubungan romantis yang tidak didaasarkan atas komitmen.

 

4. Pacaran yang mengalihkan perhatian dari tanggung jawab utama untuk mempersiapkan masa depan

Salah satu kecenderungan yang paling menyedihkan dari berpacaran adalah mengalihkan perhatian kaum muda dari mengembangkan kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan mereka yang telah diberikan oleh Allah. Bukannya melayani di gereja lokal, atau memperlengkapi diri mereka dengan karakter, pendidikan, atau pengalaman yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan di dalam hidup, banyak orang muda yang membiarkan diri mereka dihabisi oleh kebutuhan-kebutuhan saat ini akibat berpacaran.

 

5. Pacaran yang menyebabkan perasaan tidak puas terhadap karunia Allah mengenai keadaan melajang

Berpacaran yang tujuannya hanya sekedar untuk bersenang-senang akan menyebabkan perasaan tidak puas karena hal itu mendorong terjadinya penyalahgunaan kebebasan. Allah telah menempatkan di dalam sebagian besar pria dan wanita suatu kerinduan untuk menikah. Walaupun bukanlah dosa jika kita ingin menikah, mungkin kita merasa bersalah karena pelayanan yang tidak baik di masa lajang kita. Kita membiarkan suatu keinginan untuk hal yang jelas-jelas tidak diperuntukkan Allah bagi kita merampas kemampuan kita untuk menikmati dan menghargai apa yang telah Ia berikan bagi kita. Berpacaran memainkan suatu peran dalam memupuk rasa tidak puas ini dengan membuat orang-orang yang lajang berharap mereka bisa mendapat keintiman yang lebih. Pacaran tidak akan menyebabakan orang-orang menikmati masa lajang yang unik, melainkan justru menyebabkan orang-orang memfokuskan diri pada apa yang tidak mereka miliki.

 

6. Pacaran yang menciptakan suatu lingkungan palsu untuk mengevaluasi karakter orang lain

Walaupun sebagian besar hubungan percintaan tidak mengarah pada pernikahan, beberapa hubungan – khususnya hubungan antara kaum lajang yang lebih tua – dimotivasi oleh pernikahan. Orang-orang yang sungguh-sungguh ingin mencari tahu apakah seseorang adalah calon pasangan hidup yang tepat perlu mengerti bahwa sesungguhnya pacaran menghalangi proses tersebut. Berpacaran menciptakan suatu lingkungan tiruan atau palsu bagi dua orang untuk saling berinteraksi. Akibatnya, masing-masing orang dapat dengan mudah memberikan suatu gambaran palsu yang sama, dan pada akhirnya keduanya tertipu.

 

7. Pacaran yang menjadi tujuan akhir

Kaum lajang yang terbiasa berpacaran dengan menjadikan pacaran adalah tujuan akhir akan merasa sulit untuk melepaskan diri. Mereka dapat mengalami banyak hak istimewa dari pernikahan tanpa komitmen apa pun, baik secara emosional maupun fisik, dalam hubungan percintaan itu. Akibatnya, banyak orang (khususnya pria) kurang termotivasi untuk membuat dirinya berkomitmen terhadap pernikahan.

Disadur dari buku I Kissed Dating Goodbye karya Joshua Harris