Pentingnya persamaan iman dalam pernikahan

Pentingnya persamaan iman dalam pernikahan

05/15/2018 0 By BIC

“Saya adalah seorang Kristen dan selama bertahun-tahun tujuan hidup saya adalah mengenal Allah dan menyenangkan hati-Nya.

Namun beberapa tahun yang lalu tiba-tiba saja saya ‘tergila-gila’ pada seorang wanita yang bukan Kristen. Saya memberikan perhatian kepadanya karena meskipun sama sekali tidak tertarik kepada Allah, ia adalah wanita yang cantik dan tepat sekali sesuai sosok wanita idaman yang telah lama saya impi-impikan sebagai istri saya. Saya begitu ingin dan benar-benar berniat menikahinya. Suatu hari saya membaca sebuah buku tentang pernikahan Kristen. Buku itu membahas pentingnya persamaan dalam hal kerohanian dalam membangun sebuah keluarga. Saya merasa sangat marah kepada buku tersebut karena menurut saya isinya merusak rencana pernikahan saya. Saya sangat bergumul dengan hal ini. Saya berdoa dan membawa pergumulan ini kepada Tuhan dan akhirnya saya menyadari bahwa Allah ada di atas segalanya dan Dialah kehidupan saya, maka pastilah akan menjadi bencana bagi saya apabila saya menikahi seseorang yang hatinya tidak tertarik pada hal apapun mengenai Allah. Jadi, saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan kekasih saya itu.

Satu tahun kemudian, saya berjumpa dengan seorang wanita yang menarik dan memiliki komitmen untuk berjalan bersama Allah sama seperti saya. Sebulan yang lalu kami menikah. Saya bersyukur atas bimbingan Roh Kudus yang telah mengarahkan hati saya untuk tetap hidup dalam jalan Allah dan menantang saya untuk menunggu seorang wanita yang bersamanya saya dapat berbagi hal yang paling penting di dalam kehidupan ini: Allah. Kami pergi ke gereja bersama, mempelajari Firman bersama, dan bersama-sama mencurahkan isi hati kami kepada Allah dalam doa. Kehidupan telah menjadi petualangan yang indah karena kami melakukan segala-galanya bersama-sama sebagai pasangan yang menikah. Tidak dapat saya bayangkan seperti apa jadinya jika saya tidak dapat membagikan semua ini dengan orang yang kepadanya saya ingin sehidup semati.”

Kisah ini adalah kesaksian seorang pria pada konselor pernikahannya. Pengalamannya menunjukkan prinsip penting bahwa kesamaan yang pertama dan utama untuk dimiliki dalam pernikahan adalah mengenai hubungan mereka dengan Allah. Amsal 19:23 berkata, “Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang yang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.” Mengenal Allah “mendatangkan hidup”, maka kunci untuk membangun pernikahan yang bahagia adalah adanya persamaan ini (“mengenal Allah”) dalam kehidupan para pasangan. Alkitab meneguhkan hal yang sama, bahkan Alkitab menawarkan pengajaran yang kuat perihal ini.
Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya,” (2 Kor. 6:14). Firman-Nya dapat diterapkan di dalam berbagai bentuk hubungan selain pernikahan, tetapi tidak ada hubungan lain yang dapat memberikan rasa “senasib sepenanggungan” yang begitu nyata selain hubungan pernikahan. Artinya, seseorang yang mengasihi Allah dan mengikut Kristus seharusnya tidak pernah menikahi seorang yang tidak memiliki iman yang sama. Bagaimana mungkin Anda menikahi seorang yang Anda tahu tidak memiliki persamaan yang “mendatangkan hidup”?
Banyak pria dan wanita lajang Kristen kesal mendengar hal ini karena mereka merasa prinsip ini mempersempit ladang pencarian jodoh mereka, karena dianggap mengurangi jumlah calon pasangan yang berpotensi dinikahi. Bagi kaum lajang Kristen, hal ini terasa membatasi dan hampir mengikat sifatnya. Mereka berpikir: Saya pernah jatuh cinta pada seseorang yang bukan Kristen, lantas apa masalahnya? Mengapa saya tidak dapat menikahinya?
Saat orang-orang bijak merenungkan perintah Allah ini, mereka mulai memahami bahwa hal tersebut mengalir dari prinsip yang berlaku secara universal mengenai persamaan inti. Sekali lagi, penelitian menegaskan bahwa pernikahan antara dua orang yang memiliki persamaan mendalam cenderung lebih berbahagia daripada pernikahan antara dua orang yang kurang memiliki persamaan yang mendalam. Hal apakah yang lebih mendalam daripada kerohanian seseorang? Apakah lebih memberikan dampak dibandingkan inti identitas seseorang dan imannya sebagai anak Tuhan? Hal lain apakah yang dapat mengubah hati seseorang daripada pengalaman dikasihi Allah? Hal yang lebih berarti apakah yang mengisi kehidupan seseorang daripada tantangan untuk menjalin hubungan dengan Allah secara pribadi? Jika Anda adalah seorang Kristen, apakah Anda benar-benar ingin menikahi seorang yang tidak dapat berhubungan dengan Allah, padahal Allah adalah inti segalanya yang meneguhkan identitas diri Anda, yang mengubah hati Anda, dan memberikan arti dalam kehidupan Anda? Apakah Anda rela hidup bersama sampai maut memisahkan dengan orang yang tidak dapat berbagai hal sepenting ini dengan diri Anda? Inilah pentingnya persamaan iman dalam sebuah pernikahan.

(Sumber: Buku Hidup Bukan Hanya Sekadar Hidup, Bill Hybels, Metanoia)