Pernikahan: Rahasia yang Ajaib

Pernikahan: Rahasia yang Ajaib

05/15/2018 0 By BIC

Topik berita tentang perselingkuhan dan perceraian hari-hari ini bukanlah lagi topik yang menggemparkan, bahkan terkesan sudah menjadi bagian dari budaya zaman ini. Tidak hanya pernikahan nonkristiani saja yang mengalaminya, tokoh-tokoh kristen terkemuka, pencipta lagu rohani dan hamba Tuhan yang dihormati turut mengambil jalan bercerai, seolah perjanjian nikah yang pernah diikatnya hanyalah seharga sebuah janji biasa. Pertanyaannya, apakah semurah itu makna dari sebuah pernikahan di mata Penciptanya sendiri?

Di dalam Efesus 5:22-32, Rasul Paulus menjelaskan pandangan Kristen dalam hal pernikahan. Pada bagian penutup dari penjelasannya itu Paulus berkata, “Rahasia ini besar”. Jadi menurut Paulus, pernikahan itu sebenarnya merupakan suatu “rahasia”, suatu “misteri”. Pada zaman Paulus kata “rahasia” atau “misteri” lebih spesifik artinya daripada saat ini. Dahulu kata tersebut mengandung makna tertentu, yang khusus berkaitan dengan suatu upacara agama yang sakral. Di kala itu, yang dimaksudkan sebagai “rahasia” adalah suatu pengetahuan istimewa yang besar manfaatnya, namun hanya boleh diungkapkan kepada para anggota suatu kelompok agama, yang masing-masing telah diambil sumpahnya. Untuk dapat memperoleh pengetahuan yang tertutup bagi “orang luar” itu, kita harus menjadi “orang dalam” terlebih dahulu, melalui suatu upacara yang  disebut inisiasi (perkenalan).

Jadi dengan menggunakan kata “rahasia” untuk menjelaskan hubungan pernikahan itu, Paulus sesungguhnya sedang menunjukkan dua hal, yaitu: pertama, bahwa ada suatu pengetahuan istimewa yang sangat dirahasiakan dan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam pernikahan, dan kedua, bahwa pengetahuan yang tersembunyi di belakang tabir rahasia itu hanya dapat diperoleh setelah kita menempuh ujian-ujian serta memenuhi persyaratan tertentu.

Di dalam kitab Ulangan dikisahkan bagaimana bani Israel bersiap-siap untuk menyeberang ke tanah Kanaan dan memasuki negeri yang dijanjikan Allah kepada mereka. Di situ Nabi Musa menjelaskan kepada mereka bahwa apabila umat Israel menaati semua perintah Allah, mereka akan diberkati secara luar biasa dalam segala bidang kehidupan. Menurut terjemahan Alkitab versi “King James Version”, Musa berjanji bahwa rumah tangga mereka masing-masing akan menjadi “surga di dunia” (“heaven on earth”) (Ul. 11:21, KJV). Nabi Musa melukiskan dengan begitu indah dan menggambarkannya sebagai suatu kepuasan dan suasana damai yang tak habis-habisnya. Betapa indahnya kehidupan rumah tangga yang pada mulanya direncanakan Allah bagi umatNya itu!

Kira-kira seribu dua ratus tahun kemudian, dengan perantaraan Nabi Maleakhi, Allah memeriksa kembali perilaku bani Israel semenjak mereka mendiami negeri perjanjian mereka itu. Kebanyakan di antara mereka ternyata gagal memenuhi persyaratan Allah, sehingga tidak pernah mencicipi atau menikmati derajat atau kualitas kehidupan yang tinggi yang semula direncanakan Allah bagi mereka. Salah satu kegagalan mereka adalah dalam kehidupan rumah tangga, yaitu dalam pernikahan. Inilah yang dikatakan Allah di Maleakhi 2:13-14:

“Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: ‘Oleh karena apa?’ Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.”

Kenyataan menunjukkan bahwa kegagalan Israel dalam hal ini bukanlah karena mereka “kurang beragama”. Sesungguhnya, mereka telah “menutupi mezbah Tuhan dengan air mata”. Mereka rajin dan bersungguh-sungguh berdoa, namun perkawinan mereka berantakan! Demikian jugalah yang sering terjadi di zaman sekarang. Banyak orang sibuk melakukan segala macam kegiatan agama, tetapi pada kenyataannya perkawinan mereka mengalami kegagalan. Jadi, memang agama belum tentu menjamin keberhasilan rumah tangga. Bahkan sebaliknya, sering kali kesibukan berlebihan dengan urusan agama di luar rumah tangga, entah dari pihak suami atau istri, itulah yang justru menjadi pangkal penyebab gagalnya suatu perkawinan.

Pada hakikatnya, dasar kegagalan bani Israel ditunjukkan dalam kata-kata di bagian penutup ayat 14, “…padahal dialah… isteri seperjanjianmu” (“your wife by covenant”, dalam terjemahan bahasa Inggris). Bangsa Israel telah begitu merosot akhlaknya sehingga berpikir bahwa mereka berhak menetapkan standar atau patokan mereka sendiri mengenai pernikahan, bahkan dengan seeenaknya mengubah dan membatalkan standar covenant yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Tetapi sekarang Tuhan memberi peringatan kepada mereka, bahwa Ia memandang pernikahan dari suatu segi yang lain. Menurut rencanaNya yang kekal, pernikahan merupakan suatu perjanjian yang sakral dan yang mengikat (covenant).

Inilah rahasia ajaib yang Paulus maksud itu, rumus dasar yang menjamin kebahagiaan suatu pernikahan: bahwa pernikahan adalah sebuah covenant yang sakral. Apabila rahasia ajaib ini dilupakan atau diabaikan, pernikahan akan kehilangan nilai sejatinya, sehingga hilanglah pula kekuatan dan keseimbangannya. Yang kita saksikan dalam masyarakat modern dewasa ini tidak banyak bedanya dengan keadaan bangsa Israel pada zaman Nabi Maleakhi, dan penyebabnya pun sama, yaitu pandangan yang keliru mengenai arti pernikahan. Mari, kita menjadi orang-orang yang memulihkan rahasia ajaib ini di saman sekarang, dengan mempertahankan nilai covenant di dalam pernikahan kita masing-masing.
(cuplikan dari buku “Pernikahan, Ikatan yang Kudus” oleh Derek Prince)