Menjadi Istri yang berhasil

Menjadi Istri yang berhasil

05/19/2018 0 By BIC

Pada edisi yang lalu, kita sudah mengupas bagaimana menjadi suami yang berhasil. Edisi kali ini, mari kita pelajari tentang bagaimana menjadi istri yang berhasil.

Alkisah, seorang wanita mengeluh kepada seorang hamba Tuhan, “Saya heran dengan suami saya. Saya kurang apa, ya? Saya sudah memberinya semua yang terbaik yang saya miliki. Saya sudah memberinya pelayanan yang baik di rumah. Saya bukanlah berasal dari keluarga yang berkekurangan. Saya juga cantik dan tidak kalah dengan wanita lain, tetapi mengapa suami saya bisa jatuh cinta dengan sekretarisnya. Padahal, jika saya dibandingkan dengan sekretarisnya, itu ibarat ‘mercy’ dan ‘bemo’. Memang dasar pikiran suami saya jorok, rendah nafsunya!” Kemudian hamba Tuhan itu bertanya, “Kamu tahu tidak apa kebutuhan seorang pria? Menurutmu, mengapa suamimu tertarik kepada sekretarisnya yang menurut anggapanmu lebih jelek dibandingkan denganmu?” Wanita ini hanya menggelengkan kepalanya.

Suami wanita ini juga mengikuti konseling, dan dari percakapan dengan suaminya, ditemukanlah penyebabnya. Suami wanita ini bercerita bahwa ia tidak pernah mendapatkan dari istrinya sesuatu yang sangat ia butuhkan, dan hal itu ia dapatkan dari wanita lain. Memang istrinya lebih cantik, kaya dan sebagainya, tetapi ia tidak memenuhi satu kebutuhan tersebut. Tahukah Anda apa kebutuhan tersebut? Efesus 5:22-23 berkata, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”.

Ini bukan berarti bahwa suami yang berselingkuh adalah kesalahan istrinya. Namun, ada satu prinsip yang sangat penting yang paling dibutuhkan oleh seorang suami, yaitu penundukan diri dari istri. Itulah yang dibutuhkannya. Seorang suami membutuhkan rasa hormat dan dukungan dari seorang istri, dan hal itu lebih dari sekadar wajah cantik, kekayaan, atau apa pun juga. Jika seorang suami tidak mendapatkan hal ini, jangan heran bila ia akhirnya tergoda dan berselingkuh. Inilah penyebab utama mengapa suami berselingkuh, yaitu kebutuhan mental dan kebutuhan batin yang tidak terpenuhi. Suami tidak mendapat dukungan dari istri dan dia tidak merasa dihormati oleh istri. Jika Anda ingin menjadi istri yang berhasil, inilah kuncinya.

Mengapa seorang istri harus tunduk kepada suami? Dalam Efesus 5:22-23 tadi, kita dapat menemukan satu alasan mengapa para suami memang membutuhkan hal itu. Dikatakan bahwa “suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”. Jadi, mengapa kita harus tunduk kepada Kristus? Karena Kristuslah yang menyelamatkan kita. Ada unsur yang sangat penting di sini. Mengapa istri harus tunduk kepada suaminya sama seperti jemaat tunduk kepada Kristus? Kristus adalah Penyelamat, dan ini berarti bahwa jika gereja tidak tunduk kepada Kristus, keselamatannya bisa terganggu. Ia bisa diserang setan, musuh, kutuk, dan segala macam kekuatan/kuasa kegelapan lainnya. Suami bukanlah juru selamat, tetapi para suami diberi paying/otoritas/wewenang untuk melindungi istri mereka. Jika para istri tidak tunduk kepada suami, mereka tidak akan bisa hidup aman. Mereka tidak akan diberkati hidupnya. Inilah istri yang gagal. Itulah sebabnya, para istri harus belajar bahwa dengan tunduk dan menghormati suami, para suami dengan sendirinya akan lebih bertumbuh lagi dan menjadi semakin sempurna.

Wanita adalah pribadi yang unik. Di dalam diri wanita, terdapat rahasia yang sangat indah. Tahukah Anda bahwa yang paling dibutuhkan oleh seorang suami adalah jika istrinya menjadi penolong bagi dirinya? Setelah Allah menciptakan Adam dan memberinya tugas untuk menamai semua jenis binatang yang ada, ternyata Adam tidak menjumpai penolong yang sepadan dengannya (Kej. 2:20). Itulah sebabnya, Allah menciptakan seorang wanita yang menjadi penolongnya yang sepadan. Apakah arti seorang penolong? Apakah itu berarti bahwa seorang istri adalah seorang tukang masak, tukang cuci, atau tukang urus rumah tangga? Di satu sisi, mungkin hal itu memang terjadi, tetapi jika yang dimaksudkan sebagai penolong hanya sampai di situ, itu sama halnya dengan menjadikan seorang istri sebagai seorang pembantu. Wanita mempunyai potensi yang jauh lebih dari itu. “Kepenolongan” wanita bukanlah hanya dalam hal bantu-membantu atau urusan pekerjaan fisik lainnya. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Sayangnya, banyak wanita tidak mengetahui hal ini. Itulah sebabnya, banyak wanita yang potensinya tidak muncul secara penuh. Mereka tidak hidup sepenuhnya sebagai wanita yang berguna, yang berdampak dahsyat, dan yang akan menjadi berkat bagi keluarganya dan dunia ini.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa dunia ini berada di bawah telapak kaki ibu. Di bawah telapak seorang wanita. Maknanya memang betul. Jika wanita rusak, rusaklah pula dunia. Jika wanita benar, benarlah pula dunia. Potensi inilah yang tidak diketahui oleh banyak orang. Wanita mempunyai potensi menjadi penolong buat suaminya, baik dalam area rohani, mental, dan kejiwaan. Di balik keberhasilan seorang pria, ada seorang istri yang bijaksana. Seorang suami membutuhkan istri yang demikian. Apakah Anda sudah mengembangkan potensi Anda sebagai seorang istri? Para suami terkadang dalam hal-hal tertentu memerlukan dukungan dari istri mereka terlebih dahulu sebelum mereka berkembang. Sebagai contoh, ada seorang suami yang kurang rajin dalam hal kerohanian. Alhasil, istrinya suka mengkritiknya di depan umum dan sering berkata kepada orang lain, “Ah, suami saya itu malas membaca Alkitab, senangnya hanya membaca komik. Sayalah yang banyak membaca Alkitab, saya banyak berdoa, sedang ia banyak berdosa.” Istri ini mau menunjukkan bahwa ia lebih rohani daripada suaminya dan ia menuntut suaminya untuk menjadi lebih berohani, padahal suaminya ini memang belum bertumbuh. Banyak kasus seperti ini terjadi. Apakah istri seperti ini menjadi penolong buat suaminya? Tidak, ia justru menjadi perongrong atau mungkin penodong. Seorang penolong akan diam dan menahan diri dari kritik di hadapan orang lain. Jika ia bercerita, itu hanyalah kepada orang yang tepat dan bukan dengan sembarang orang. Ia dapat saja berbagi dengan gembala pernikahan atau dengan orang-orang yang ia anggap bisa mengayomi dirinya. Jangan menceritakan suami Anda ke mana-mana. Itu bukanlah sikap istri yang baik. Istri yang baik akan diam dan berdoa untuk bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, aku adalah penolong bagi suamiku. Bagaimana caranya aku dapat menolong suamiku supaya lebih rohani?” Jika Anda sebagai istri ingin kerohanian Anda bertumbuh, sering-seringlah bertanya kepada suami Anda, “Pa, bagaimana ya hal ini, saya belum memahaminya?” Jika suami Anda ditolong dengan cara “ditantang” demikian, potensi di dalam dirinya bertumbuh dengan cepat, bahkan melebihi kecepatan bertumbuh Anda.

Tuhan memberikan kemampuan kepada seorang suami untuk bertumbuh agar bisa menjadi pengayom. Jika Anda bermaksud menolong dan mendorong suami Anda, walaupun mungkin jawaban yang ia berikan salah, belajarlah untuk berkata, “Terima kasih Papa sudah mencoba menjawabnya.” Suami Anda akan merasa bahwa Anda adalah seorang istri yang luar biasa. Suami Anda akan bersemangat dan ia akan sungguh-sungguh bertumbuh. Itulah fungsi istri sebagai penolong suaminya. Saya percaya bahwa di dalam diri setiap wanita ada potensi ini, dan setiap wanita bisa melakukan hal ini bila potensinya dikembangkan. Bagaimana caranya? Satu-satunya cara adalah dengan praktik dan latihan. Seorang wanita harus belajar dengan tiada henti. Ada seorang hamba Tuhan yang berkata bahwa untuk mengasihi kita perlu belajar berulang-ulang, tetapi untuk membenci kita tidak perlu instruksi. Itulah tabiat dosa manusia. Belajarlah hal-hal yang positif secara berulang-ulang serta tidak henti-henti. Ketika para istri mengembangkan potensi mereka dengan sungguh-sungguh, mereka akan merasakan berkat yang indah. Jika setiap istri mengetahui dan menjawab kebutuhan utama suaminya, ia akan melihat suaminya itu semakin mudah mengasihinya.
1 Petrus 3:3-4 menyebutkan, “Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” Ini bukan berarti bahwa wanita tidak boleh berdandan. Maksudnya adalah jangan mengutamakan hal itu lebih dari kecantikan batiniah. Tentu saja, orang yang batinnya cantik akan menjadi lebih cantik jika fisiknya juga cantik. Jadi, jangan sampai seorang wanita berdandan secara jasmani, tetapi tidak secara batiniah. Kadang-kadang, wanita rela menghabiskan satu juta rupiah hanya untuk sekali pergi ke salon, tetapi untuk menghias hal rohaninya ia sangat pelit. Ia mempunyai waktu untuk pergi ke salon, tetapi tidak untuk bersaat teduh. Jangan heran jika ia menjadi seorang wanita yang tidak cantik batinnya. Bagaimana caranya menjadi cantik rohani?

Ada dua “kosmetik” yang diperlukan, yaitu:
Roh yang Lemah Lembut
Roh ini tidak muncul karena diimpartasikan, melainkan berkembang sebagai hasil dari latihan dalam pembentukan Allah. Bagaimana supaya para istri memiliki roh lemah lembut? Caranya ialah dibentuk dan dibentuk, sama seperti tanah liat yang dibentuk menjadi sebuah vas bunga yang indah. Tanah liat itu dipukul, dihaluskan, disiram air, diremas-remas, dan dilumatkan hingga mudah dibentuk. Setiap wanita dibentuk sampai indah dan lembut. Ini semua memerlukan waktu. Itu sebabnya para istri tidak boleh berkata, “Aduh, mengapa Tuhan memberi suami seperti ini?” Tuhan lebih mengetahui suami apa yang cocok bagi Anda supaya Anda menjadi lemah lembut. Jadi, Tuhan mengizinkan suami Anda memiliki kelemahan tertentu yang akan membentuk Anda agar menjadi istri yang lemah lembut.
Dalam hal tunduk kepada suami, para wanita seringkali mengalami kesulitan. Kejadian 3:16 mengatakan bahwa wanita mempunyai kecenderungan “berahi” kepada suaminya. Dalam bahasa aslinya itu berarti “menguasai suami”. Hal ini tentu saja menjadi kelemahan wanita. Kadang-kadang seorang suami mengambil keputusan yang terasa kurang adil, tetapi jika Anda adalah istri yang mau belajar dan menerima firman Allah, biarlah Anda berkata, “Tuhan, walaupun kelihatannya keputusan ini kurang adil, aku mau belajar tunduk.” Maukah Anda sebagai istri berkata demikian? Jika ya, alangkah indahnya keputusan Anda. Ketika Anda memutuskan mau belajar tunduk, roh Anda mulai dibentuk menjadi lemah lembut dan mudah menyerahkan hak. Di sisi lain, Tuhan pun akan membentuk suami Anda sehingga pernikahan Anda akan semakin indah.
Alkitab berkata, “Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya,” (1 Pet. 3:1). Jadi, jika suami Anda keras atau bersikap sebagai diktator, sebagai istrinya Anda harus belajar untuk tunduk walaupun itu mungkin menyakitkan.

Roh yang Tenteram
Apa artinya roh yang tenteram? Artinya adalah roh yang tenang. Roh tenteram di sini artinya “tidak mudah khawatir”. Dunia istri adalah keluarganya, dan banyak istri yang berpikir bahwa jika beras tinggal 1 liter, maka langit akan runtuh menimpa mereka. Itulah wanita. Wanita sangat berbeda dengan pria. Dunia suami adalah bisnis/pekerjaannya. Itulah “kerajaannya”. Bagi seorang suami, urusan beras tinggal 1 liter itu tidak membuatnya panik. Suami lebih tenang dalam menghadapi semua ini. Suami yang tidak mengerti kepanikah ini berpikir bahwa istrinya adalah seorang yang duniawi, lalu ia mengusir roh duniawi dalam istrinya itu di dalam nama Yesus. Itu bukanlah roh duniawi, itu adalah hal yang wajar dan alami. Hanya saja, para wanita perlu belajar untuk tenang di dalam menghadapinya. Mereka perlu tenteram dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Mereka harus percaya bahwa jika istri tunduk kepada suami dan menghormati suami serta sehati berdoa dengan suami, berkat akan datang.
Para istri harus menyadari bahwa suami adalah alat bagi Allah untuk menyalurkan berkat-Nya. Sumbernya tetaplah Allah dan bukan suami, tetapi berkat Allah itu datang melalui suami. Suami adalah kepala dan istri adalah tubuh. Berkat itu selalu datang dari kepala turun ke tubuh, seperti halnya urapan yang turun lewat kepala ke janggut dan kemudian ke tubuh. Jadi, janganlah para istri bangga jika gajinya lebih besar daripada gaji suaminya. Jangan sampai ia berpikir untuk menghina suaminya. Banyak istri yang memiliki gaji yang lebih besar dari suaminya justru hidupnya terkutuk karena tidak pernah menghormati suaminya. Ini mengerikan sekali. Istri yang demikian hidupnya tidak akan berbahagia. Ia tidak bisa menikmati berkat itu. Berkat bukanlah sekadar uang. Berkat itu juga mencakup kebahagiaan hidup dan banyak hal lain. Itu sebabnya, para istri harus menghormati, tunduk, dan percaya kepada suami mereka.

Pergunakanlah roh yang lemah lembut dan roh yang tenteram ini untuk mendukung suami Anda, membangun suami Anda, dan menjadikan diri Anda sebagai penolong yang efektif bagi suami Anda. Maksimalkan diri Anda sebagai istri yang berhasil supaya suami Anda bertumbuh dan pernikahan Anda berdua menjadi lebih indah lagi.